Set your (destination) location, for better site experience. Use My Current Location
Baking Some Results...
Goorme is a smart online application for food lovers, which is able to recommend you new food to try that matches your Taste Profile.
Bagi orang-orang yang jauh dari tanah sunda, nama awug mungkin baru terdengar. Awug memang jajanan khas Sunda yang konon berasal dari wilayah pedalaman. Makanan ini biasanya dibuat oleh masyarakat lokal saat panen usai.
Ajang Muhidin, mengisahkan pengalaman dirinya saat dulu memperhatikan neneknya membuat awug di kampungnya, Cicalengka. Ia lalu menirunya dan berhasil membuat awug enak yang sama. Kemudian, ia mencoba peruntungannya dengan menjajakan awug di Bandung. Saat itu tahun 1978, dan belum ada yang menjual awug di sana.
Dengan menggunakan gerobak, Ajang berkeliling menjual awug hangat buatannya di sekitar kawasan pasar Cicadas. Banyak pedagang pasar di sana yang menyukai awug Ajang.
Awug terbuat dari tepung beras, kelapa, aroma daun pandan, dan gula merah. Bahan-bahan itu mirip dengan bahan untuk membuat kue putu. Namun, jika kue putu dikukus dalam silinder bambu kecil, awug dikukus dalam wadah lancip, sehingga nantinya menghasilkan bentuk seperti nasi tumpeng.

Ajang cukup selektif dalam memilih bahan baku. Bahan baku yang dipilih (terutama beras) harus yang berkualitas.
Proses pembuatan awug ternyata cukup panjang. Beras direndam selama 24 jam. Kemudian, digiling hingga halus menjadi tepung. Lalu, dikukus setengah matang dan didiamkan selama tujuh jam. Setelah itu, dikukus kembali bersama gula merah dengan menggunakan kukusan atau aseupan. Setelah matang, awug disajikan hangat dengan parutan kelapa.
Dengan adanya respon positif, Ajang lalu membuka kios di daerah Cibeunying pada tahun 1980. Awug yang dijual seharga 5000 rupiah per porsi itu (10 potong) semakin terkenal karena promosi mulut ke mulut. Ajang pun mulai memproduksi jajanan lain seperti putri noong, nasi ketan, adas, lupis, klepon, ongol-ongol, putu mayang, nagasari, dan lain-lain. Jajanan itu ternyata cukup laris.
Awug Beras Cibeunying juga pernah didatangi Bondan Winarno, loh. Ingin mencoba? Tak hanya di Cibeunying, awug ini punya tiga cabang lain, yaitu di Padasuka, Sukamiskin, dan Jalaprang. Catat jam bukanya: 15.00-21.00 WIB.
Referensi: Pratiwi ENM, Rinaldi Munir
wedew !! Gede banget untuk ukuran putu !! Hmm, blm nyoba sih....tapi kok keliatannya lebih menarik putu ya? Tp asli jadi pengen nyoba beneran.
hehe.
emang gede.
satu kerucut itu kira-kira bisa untuk 5-10 porsi.
(i porsi=10 potong)
harus nyobaaa..!
enak banget.
tekstur awug lebih padat daripada putu.
menurutku putu lebih gampang 'hancur'.
klo awug enggak..
awug juga lebih mengenyangkan :)
Putu sih sudah sering dengar. Lumayan umum jg di Jawa. Tapi kalo putu besar "awug" baru kali ini.
Pengen coba, tapi tempatnya jauh dan belum pernah dengar. Jauh-jauhpun kesana, jam bukanya itu loo....yang tanggung juga. Bisa2 sampai sana udah tutup :)
Nice info btw...sy keep ke list makanan saya yang #musttry
sebenernya yang jual awug kan ga cuma Ajang aja..
ada juga pedagang-pedagang lain yang mengikuti jejak Ajang berjualan awug.
tapi ya itu, letaknya tersebar.
maklum, pake gerobak.
di Jatinangor, misalnya, ada yang jual.
bukanya dari pagi jam 9an sampai sore.
tp skrg kayaknya udah pindah lokasi..
hehe :D
Baking Some Results...